Jumat, Maret 10, 2017

Hello, Women!


Ya ampun akhirnya nulis blog lagi setelah sekian lama. Sejujurnya hampir lupa punya blog, apalagi mengingat kalo isi blog ini kalo nggak curhat colongan,  ya bahasan – bahasan kurang bermutu. Rasanya pengen pura – pura lupa kalo punya blog. Tapi ya udah nggak papa, kan nggak semua orang suka hal – hal yang serius ya *memilin – milin ujung baju dengan nervous*

Terus kok ngeblog lagi?

There must be a very strong reason why I keep considering writing again. Dan jawabannya adalah hari kemarin. Hari Perempuan Internasional.

Well sebelumnya aku ucapkan selamat hari perempuan sedunia ini kepada para rekan – rekan perempuan di manapun kalian berada *giving a warm hug* *ambil mic* *WHO RUNS THE WOORLLDDDDDD?!?!?! GIRLSSS!!!!!*

Oke, jadi kemarenan aku perhatiin campaign dan selebrasi tentang hari perempuan internasional lumayan rame yang sampe bikin aku mikir “oh iya ya hari ini hari internasional perempuan. Ayo foya – foya! (ini mah alesan biar bisa boros tapi nggak merasa berdosa aja)”. Postingan – postingan tentang kesetaraan gender, tentang bahagianya menjadi perempuan,dan satu topik utama yg sepertinya jadi pilihan favorit beberapa orang:

Brain over beauty.


Banyak banget artikel yang mengangkat tentang pentingnya kecerdasan dibanding kecantikan, ajakan untuk  jadi perempuan yang pintar, dan pembeberan alasan – alasan kenapa menjadi perempuan pandai jauh lebih penting dari sekedar menjadi perempuan cantik. Dan jujur aja, hal ini lumayan mengganggu pikiran. 

Some part of my heart is kinda.. irritated.


Pertama – tama, izinkan aku melemparkan beberapa pertanyaan:
Pernah nggak ketemu perempuan cantik banget sampe kamu nggak sadar istigfar berkali – kali?  Banyak (easy question)

Pernah ga ketemu perempuan pinter banget sampe kamu merasa terintimidasi dan mempertanyakan isi otakmu sendiri kenapa kok bisa bego bener dibanding ini orang? Banyak (still easy, darling)

Pernah ga ketemu perempuan baik banget kayak malaikat sampe – sampe kamu mikir ini orang manusia apa bukan ya? Banyak. Banyak banget.

Pernah ga ketemu perempuan cantik banget, baik banget, dan pinter banget? One whole complete package? Surprisingly, banyak (kaget ga si)

Aku sering banget bertemu perempuan paket komplit kayak yang aku sebutkan di atas. Cantik luar biasa, attitude nggak pernah lupa, diajak ngobrol asik banget sampe bikin lupa waktu, aktif organisasi, IP gede, dimintain tolong selalu mau, warna lipstiknya bagus – bagus, kulitnya mulus, alis on point, intinya yang bikin aku mepertanyakan hal yang sama ke diriku sendiri

“bisa ya ada orang kayak begini?”

dan

“kenapa lo bisa masih idup kayak gembel gini!?” (jadi emosional)

Jawabannya bisa. Bisa banget. Kita bisa banget ketemu orang kayak gini, dan sejujurnya, nggak sulit. Jadi boleh dong aku menarik kesimpulan kalo…. It’s not impossible. Kita bisa jadi salah satunya. Perempuan komplit kayak begitu bukan mitos. Bukan takhayul. Nggak bohong. Kita nggak perlu cuma milih satu aspek dari hal – hal keren tersebut. Siapa sih yang nyekokin kepala kita dengan “lo harus milih satu di antara pinter atau cantik? Jago bahasa inggris apa jago matematik? mie goreng atau mie kuah?” ?. Nggak sehat deh asli. Because we can grab all that stuff. Sekali lagi, kita nggak diharuskan cuma milih satu.

Nggak cuma cantik
Nggak cuma baik
Dan nggak cuma pinter

That’s why, membaca tulisan tentang betapa pentingnya menjadi perempuan pintar tanpa melihat aspek lain lumayan bikin aku kecewa. Dan yang bikin lebih sakit hati, tulisan – tulisan mengenai brain over beauty ini kebanyakan diangkat oleh sesama perempuan. Ya ampun sayang, kenapa membatasi diri sendiri? Dan yang paling parah, kenapa membatasi saudari – saudarimu?

Jujur dulu aku termasuk dalam orang yang “udah yg penting pinter, jaman sekarang yg penting otak” “smart is the new sexy” dan lain – lain yang ternyata makin ke sini makin aku sadari bahwa pikiran – pikiran kayak gitu cuma justifikasi. Cuma alasan. Cuma  cara kabur dari kenyataan bahwa aku gak cukup percaya diri dengan diriku sendiri. And personally, for me, that’s rude. Itu tindakan paling jahat ke diri sendiri. Gimana bisa kita udah diciptakan dengan begitu sempurna dan kita malah ragu. We don’t explore our own potential that much. Dan yang lebih parah, malah membatasi potensi orang lain. Jahat tau. Beneran deh, jahat.

Somehow kita asik gembar – gembor tentang kesetaraan gender, tapi kita malah bikin point of view yang mengerikan ke sesama perempuan.

“Perempuan cantik biasanya bego.”
“Wah tipikal blondie nih, nggak yakin dah sama otaknya”
“Alisnya rapi amat, kebanyakan nonton tutorial make up nih dibanding baca textbook”
Sadar nggak sih, asumsi – asumsi kayak begitu konyol dan nggak berdasar?
Labelling kayak gitu bikin perempuan jadi males dandan karena takut dicap bego. Perempuan jadi males merawat diri karena takut dikira dangkal, cuma mikirin fisik. Pernah kepikiran sampe situ nggak sih?

Pretty women are interesting
Smart women are dangerous
Kind women are mind-blowing
Tapi tiga – tiganya? We can be lethal.

Tulisan ini dibuat bukan ajakan kepada perempuan supaya rajin dandan (make up mahal tau! *crying in sorrow*), tapi reminder kepada teman –teman sesama perempuan untuk tidak menutup diri dari potensial – potensial yang ada di dalam diri kita, serta yang paling penting, tidak membentuk label – label konyol ke sesama perempuan yang berujung kepada pembatasan  terhadap eksplorasi potensi diri

One thing to remember, when you choose to upgrading yourself to be a better version, it’s not for anyone else, it’s not for men out there, but it’s for you.
(ya kalo ada yang nyangkut mah bonus ya)

Salam hangat dari aku, yang selalu sayang ke saudari – saudari perempuanku.

Sabtu, Juni 11, 2016

2016 is a bliss

Tahun 2016 baru separuh jalan, tapi ternyata aku udah disadarkan akan beberapa hal yang sebelumnya nggak pernah kepikiran sama sekali

1. Korean Pop ternyata menarik
sebelumnya aku adalah manusia yang kalo liat K-Pop lover, diem - diem bergedik ngeri. "Ini fans K-Pop kenapa ngeri banget ya fanatiknya, padahal lagunya juga biasa aja". Sembarangan banget kan komentar seenaknya. Padahal denger lagunya juga nggak pernah. Langsung deh aku mendapat teguran dengan secara tidak sengaja membuka boyband EXO di youtube. Terus suka. Sekarang bahkan sampe ngefollow bebarapa anggotanya di instagram. Dan tanpa sengaja senyum - senyum setiap si idol ngepost video di instagram. Karma memang perih ya.

2. Broken-hearted makes you lose lots of pounds
Nggak usah dijelasin. Intinya kemaren sempet turun 6 kg karena sesuatu kejadian yg lumayan stressful.

3. Kulit perlu dirawat dengan sabar
Dulu sembarangan banget pake skincare ini itu ini itu. Nggak sabaran pula. Nggak membuahkan hasil? langsung ganti. pantes aja jerawatan ga sembuh - sembuh. sekarang lebih wise, telaten dan sabar dalam memilih dan menggunakan skincare. alhamdulillah kulit wajah jadi lebih sehat.

4. People come and go, but the right ones stay.
Ya intinya selalu ada orang - orang yang mencintaimu dengan tulus dan ikhlas. Mereka yang tidak akan pernah meninggalkanmu di situasi apapun. Bahhkan ketika terbatas oleh ruang dan waktu.

Mungkin ini cuma 4 biji dan terdengar nggak penting. Tapi jujur aja ini lumayan merubah cara berpikir aku dalam menghadapi segala kondisi dan situasi. Alhamdulillah dikasi kesempatan untuk terus memperbaiki diri, untuk terus upgrade diri, naikin level kualitas diri. Semoga 6 bulan kedepan semua urusan aku (dan kita semua!) dilancarkan olehNya. May your coffee be strong, and your heart be stronger.

Kamis, Mei 12, 2016

Nothing Lasts Forever

teruntuk teman baikku,

terima kasih untuk waktu dan perhatiannya selama ini
terima kasih sudah selalu mengerti

semoga di lain kesempatan, kita bisa bertemu lagi
it might be in other universe
it might be in other dimension
but there will always be a next time.

Senin, November 09, 2015

All I Need is Silence


Saya adalah tipe orang yang mudah sekali bergaul. Kalo kalian yang sedang membaca post ini mengenal saya dalam dunia nyata, I’m pretty sure you’ll agree. Saya dianugrahi kemampuan untuk mudah bergaul dengan berbagai jenis lingkungan. I can easily access any circles and mingle smoothly. And yes, without any doubt, I consider it as my strength.

Semasa kuliah S1, saya bisa menclak – menclok bergaul di berbagai clique. Di awal kuliah, saya berteman dekat dengan circle A, lantas di tahun kedua saya menambah pergaulan dengan circle B, bertambah lagi dengan circle D, dan pertemanan saya semakin bertambah dan  terus meluas.

Setelah memasuki dunia koass, lantas semua hal menjadi berubah. Saya bertemu dengan orang – orang baru di kelompok saya yang sebelumnya saya nggak pernah kenal (ya adalah 1 – 2 orang yang saya kenal, tapi nggak deket). Dengan jadwal yang padat, keadaan hampir nggak memungkinkan saya bersosialisasi dengan dunia luar koass. And that’s it,  saya terjebak dengan kelompok koass saya. Kelompok koass saya berisi orang – orang dengan karakter yang nggak pernah saya temuin sebelumnya. Which is good.

DI awal tadi saya udah cerita kalo saya berteman dengan banyak orang. Tapi hampir semua orang lupa: more people, more drama. Saya  dikelilingi oleh banyak sekali drama. Mulai dari yang saya terlibat langsung oleh drama tersebut, atau saya sebagai pendengar keluh kesah dari pelaku drama. Dramanya pun lumayan variatif kalo diinget – inget. Mulai dari pertemanan, perkuliahan akademik, sampe cinta – cintaan. At that time, everything feels fine. Sampe saya ketemu temen – temen koass saya. Mereka cuek banget. Cuek in a good way. Ga pernah ngomongin orang, ga pernah ikut campur urusan orang, yang intinya, they know that everyone has their own space. My new mates created a very comfortable vibe. Langsung deh saya merasa kalo kehidupan S1 saya dramaaaa banget. Dari awal saya masuk sampe kemaren ngurus skripsi, adaaaa aja bumbu – bumbu kehidupan. Dan bodohnya, saya baru sadar, itu semua melelahkan.

Hal tersebut membuat sekarang saya agak anti-sosial. Saya jarang ikut acara ini itu, saya jarang cuap-cuap di chat group. Saya memilih buat di kosan saya aja. Diem, istirahat, dan kalo makan, lebih memilih makan sendiri. Basanya saya LINE temen yg saya rasa nyaman “cuy makan yok”, kalo mereka ga bisa, yaudah capcus makan sendiri. Dibanding mesti nyari orang lain yg saya sebenernya ga nyaman – nyaman amat. Bahkan saya pernah ketemu temen saya (N) di tukang nasi goreng dan saya makan sendiri. Si N ini lagi makan sama temennya (Temen N)

N: lho chess, sendiri?
C : iya ni. Surem ya wahaha
Temen N : makan di sini?
C: iya….. ? kenapa emang wkwkwk! (sambil cekikikan)
Temen N: ih aku kalo sendirian, pasti bungkus, malu makan sendiri haahaha
C: ….

Saya pun nanya ke temen saya, namanya D,
“D, makan sendirian aneh gak?”
“aneh”

OK, case closed.


Karena penasaran, saya memurutskan untuk bercerita ke salah seorang temen koass (yang sekarang ini lagi paling deket sama saya!)

“Salah ga sih gue ngerasa lagi butuh sendiri? Like, I’m tired with every social demand. Salah ga sih gue ngansos dulu?”

dan dia menjawab

“nggak papa. Daripada bergaul sama lingkungan yg sebenernya ga sreg – sreg amat, gue sih lebih milih buat ga bergaul sekalian. Hahahaha!”

Hebat juga ni anak.

Terus ujung – ujungnya saya pun cerita ke pacar saya yang kebetulan lagi LDR (dia lagi koass obsgyn di Banjarnegara 2 bulan coba!). dia bilang

“Ya nggapapa. do everything that makes you feel comfortable”
(Duh, dewasa banget sih mas)

Dan sekarang saya lagi sendiri di kamar. Ngetik tulisan ini. Sambil bertanya – tanya sendiri

Does everyone feel this phase in their life? Apakah semua orang pernah merasa pengen mengasingkan diri sejenak dari keriuhan dunia sosial mereka? Or, is it just me?

Kamis, Oktober 08, 2015

Lelaki


Kebetulan saya punya banyak sekali teman laki – laki. Beneran teman. Bukan “teman” atau “abang-abangan” atau “aaah teman biasa aja kokkk (tapi sambil senyum-senyum)”. Literally teman biasa. Mungkin karena saya tidak menarik both in sexual or romantic way, Jadi biasanya laki – laki saat berkenalan dengan saya juga bawaannya adalah berteman. No flirt. No slick talk. Which is a good thing (eh, really?!). Hal ini berujung pada banyak sekali pria di sekeliling saya. Karena mereka nggak takut nantinya jadi suka ke saya, atau saya jadi suka sama mereka, dan pertemanan kita hancur berkeping – keping. It’s like I have an ability to make friends with men, without any worries of developing strong feeling. Atau kata orang jaman sekarang, saya anti baper (bawa perasaan) (cmon guys stop using baper word it’s so tacky).

Tapi hal ini tidak berarti saya tidak pernah naksir dengan pria. Bukan berarti saya nggak pernah punya pacar (yes, at the moment I’m typing this post, I’m in a very comfy relationship). Intinya, saya bisa membedakan yang mana yang potential romantic partner, yang mana yangg murni teman, dan yang mana yang hanya akan menjadi gebetan belaka. (seriously, is gebetan word still used?). Oleh karena itu, pada postingan ini saya akan membahas, jenis – jenis pria yang ada di hidup saya. Let’s start.

1.     The Significant Other
Atau kata populernya, pacar. Orang yang aktif mengirim pesan di LINE, whatsapp, atau aplikasi chatting lainnya. Yang paling sabar saat PMS tiap bulan melanda sehingga dia harus mendengar saya marah – marah, ngeluh, mendadak jadi orang paling kampret sedunia. Orang yang cukup care untuk bilang “udah buka buku belom hari ini?”. Pokoknya, yang hafal segala detail tentang saya, dan mengerti cara menangani dengan baik. (yah, mirip pawang lah)

2.     Lifetime Brother
Bukan. Bukan “abang” secara harafiah. Tapi sahabat yang saking lamanya kenal dan saking dekatnya udah saya anggap seperti saudara saya. Dia yang di tanggal ulang tahun saya, pasti kirim paket kado (yay!!!). dia yang dengan leluasa bisa saya chat dengan “I found a hot guy at school” “u bisa gak sih ke jogja entah kapan??!” “skripsi aing kaya sampah no progress” “aku mau apply posisi ini, coba atau gak ya??!” “ku abis beli CD arctic monkeys dong”. Dan bisa nasehatin saya tanpa bikin saya marah - marah tanpa tersinggung. Yah, kebayang lah ya posisi orang ini seperti apa.

3.     Close Enough
“chess, makan yuk” "nonton malem ini sabi sih?"
“aduh galau gua, gua ke sana sekarang yah butuh cerita”
yah, mereka yang secara reguler curhat tidak kenal waktu, ajak makan tidak kenal waktu, dan segala sesuatu hal tidak kenal waktu. Close and brave enough to ruin your daily schedule. Tapi sayangnya, belum sampai level yang bikin saya balik cerita ke mereka. Yang bikin saya mampu curhat nangis - nangis. Close enough, but not that close.

4.     Jokers Squad
*send stupid meme*
*gosipin orang*
*komen2 sampah di path*
*send voice notes*
basically doing unimportant-but-very-entertaining things.

5.     Forever Crush
Yang hanya akan jadi gebetan. Like, the one who’s too good to be true. Yang hanya akan bikin nengok kalo nggak sengaja papasan di jalan, tapi tanpa ada angan apa - apa. Yang karakternya ada di checklis “pria-idaman-saya”, but never cross on my mind “kalo doi jadi laki gue gimana ya?”. Intinya dia yang hanya menjadi hiburan fana. Tidak untuk diwujudkan.

Mungkin di antara kalian, juga ada yang mengelompokkan kriteria – kriteria ini. Dan saya jadi pengen bertanya, satu hal yang akhir – akhir ini datang ke kepala saya:

Mungkin nggak sih peran antar kelompok tertukar?

Pacar kamu berakhir menjadi sahabatmu?
Sahabatmu jadi orang yang biasa – biasa saja buatmu?
Teman bercandamu jadi gebetanmu?
Orang yg selalu hanya menjadi pria yang tidak mungkin kamu gapai mendadak tergila – gila denganmu?

Dan kalau mungkin terjadi,
Siapkah kamu?
Saat sahabatmu berlalu, beneran akan sedih kah?
Saat pria idamanmu naksir berat ke kamu, beneran akan bahagia kah?

Just by thinking about it, it gives me shivers.

Minggu, Maret 09, 2014

bla bla bla

selalu ada satu orang di hidup kita yang..

bisa bikin kita kesel sekesel - keselnya
bisa bikin kita marah - marah
bisa bikin kita mengelus - ngelus dada
bisa bikin nutup mata sambil nahan emosi
sampe bisa bikin kita nangis sesenggukan.

dan anehnya, kita nggak mau mengganti orang tersebut dengan apapun..

Senin, Januari 20, 2014

the middle of the night

saya suka sekali main twitter. seneng banget liat status orang - orang yg terupdate. bisa lagu yang lagi didengerin, update kondisi lalu lintas, referensi film bagus, atau sekedar quote - quote dari tokoh terkenal. akhir - akhir ini saya jarang update. tapi, biarpun saya nggak update status apa - apa, saya tetep suka scroll - scroll timeline. just to find out something interesting. so watchout, guys.

satu fenomena yang saya sadari adalah..

apabila sampai pada tengah malam, timeline berubah menjadi lebih jujur. lebih lugas. lebih... apa adanya.

ada yang mendadak jadi lebih melankolis, ada yang mendadak menjadi lebih sweet, ada yang mendadak menjadi lebih pilu, but all of them, terasa lebih jujur.

akhirnya saya iseng nanya ke salah seorang sahabat saya

C: kamu percaya nggak, kalo tengah malam, orang tuh jadi lebih jujur? kenapa ya?
R: percaya. makanya werewolf berubah kalo tengah malam. itu juga alasan kenapa cinderella balik ke wujud asli pas jam 12 malam. semua balik jadi diri sendiri setelah lewat tengah malam. ya nggak?
C: eh?

mendengar jawabannya, saya langsung cengar - cengir. absurd setengah mati. tapi entah kenapa saya bisa menerima alasan tersebut. 

Namun, kenapa orang - orang mendadak lebih terbuka ketika malam menjemput, tetap menjadi rahasia.

apakah tidak ada lagi yang bisa dipercaya?
atau kenapa?

yang jelas, fenomena ini membuat saya menjadi lebih suka membuka aplikasi twitter saat tengah malam.

karena  saya selalu menyukai kejujuran. sekacau apapun kejujuran itu.